Oleh: haerunisa | Juli 24, 2008

PembuNuhan BEraNtai

Kamis, 24 Juli 2008 | 15:59 WIB

JAKARTA, KAMIS – Pembunuh berantai Very Idam Henyansyah alias Ryan (30) kerap berpindah-pindah tempat tinggal di Ibu Kota. Ia telah menjejakkan kakinya di beberapa kamar kos atau kamar apartemen dan tidak memiliki tempat tinggal tetap.

Sebelum tinggal di Apartemen Margonda Residence, Depok, Ryan tinggal di sebuah kamar kos mewah di Jalan Karet Pedurenan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Di rumah kos itulah ia mengenal Ariel, karyawan perusahaan properti. Menurut penjaga rumah kos, ketika turun hujan di suatu malam, sekitar empat bulan lalu, Ryan dan Novel, pacar laki-lakinya, berkenalan dengan Ariel, yang menjadi salah satu korbannya. Rumah kos itu sepi pada siang hari. Meski satu atap, bukan berarti para penghuninya saling kenal.
Mereka kebanyakan adalah para pekerja yang beraktivitas pada siang hari. Mereka hanya butuh tempat tinggal yang strategis dan dekat dengan tempat kerja karena hanya berjarak sekitar 500 meter dari Jalan HR Rasuna Said, Kuningan.

Harga yang ditawarkan juga cukup tinggi untuk sebuah kamar kos dengan luas tak lebih dari 15 meter persegi, yakni Rp 2,6 juta jika dihuni sendiri, dan Rp 2,9 juta jika dihuni berdua. Penghuni biasanya terus berganti-ganti, hanya sebagian kecil yang menetap lama. Para penghuni dan penjaga rumah kos mengaku tidak terlalu mengenal Ryan sebab ia hanya tinggal di rumah itu selama sebulan.

Saat datang, menetap, dan pergi, tidak ada tabiat aneh yang dikerjakan Ryan dan Novel. Semua penghuni mengira mereka hanya berteman biasa.

Hampir semua penghuni mengendarai mobil. Pada Jalan Karet Pedurenan banyak terdapat rumah kos mewah. Menurut warga sekitar yang tidak mau menyebut nama, di kamar kos mewah itu penghuni bebas memasukkan tamu siapa pun. Namun jika tamu ingin menginap, harus membayar lagi sekitar Rp 100.000 per malam. “Saya tahu dari koran kalau Ryan itu pernah tinggal disini, tapi saya enggak pernah lihat tuh, sebab di sini orangnya gonta-ganti terus,” katanya.

Tidak diketahui pasti di mana lagi Ryan pernah menetap di Ibu Kota. Perilakunya yang berpindah-pindah itu bisa jadi sebagai cara menghilangkan jejak atau mencari korban lain. Setelah pergi dari rumah kos di Setiabudi, Ryan dan Novel pindah ke Margonda Residence. Ia juga hendak pindah dari Apartemen Margonda setelah menghabisi Heri Santoso, tapi lebih dulu ditangkap petugas.

Margonda Residence adalah apartemen yang juga strategis di dekat kampus Universitas Indonesia. Gedung apartemen tidak terlihat jelas dari pinggir jalan karena depannya ada deretan ruko. Keamanan di dalam apartemen juga cukup ketat, terutama pascaperistiwa itu. Setiap tamu yang datang wajib meninggalkan kartu identitas dan menjelaskan tujuannya.

Menurut seorang satpam wanita, kamar 309 sudah kosong. Namun, ia menolak mengomentari kasus pembunuhan yang dilakukan Ryan. Begitu juga para karyawan dan satpam yang ditemui Warta Kota, Rabu (23/7), semuanya kompak tutup mulut. Di gedung apartemen itu terdapat sekitar 800 unit apartemen yang kebanyakan tipe studio (kecil).

Saat ini Margonda Residence belum terisi penuh dan masih dipasarkan. Hanya tersisa 40 persen. Banyak pemilik apartemen yang menyewakannya kepada orang lain. Ryan juga menyewa kamar apartemen dari seseorang bernama Fauzi. Dibanding kamar kos di Setiabudi, harga sewa apartemen ini lebih murah, hanya berkisar Rp 1 juta per bulan. Andai saja Ryan belum tertangkap, entah ke mana lagi ia akan bertualang dan membunuh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: